Senin, 27 Mei 2013

When Life Gives You Lemon, Make Lemonade!

"When life gives you lemon, make lemonade!" 
Kata-kata di atas kudapat dari cuplikan narasi sebuah film barat. Pertama kali mendengarnya aku sedikit bingung apa maksud dari kalimat perintah tersebut, apalagi yang ditayangkan hanyalah adegan sepasang tangan pria yang sedang memotong-motong lemon lalu memerasnya ke dalam gelas berisi es dan air soda. Tapi setelah beberapa menit mengikuti alurnya, aku mengerti bahwa kiasan ini mengajarkan untuk tetap berbaik sangka jika kita menerima cobaan. Memang tidak mudah untuk melakukannya di saat keadaannya tidak memungkinkan. Bagaimana kita bisa menerima kenyataan jika kita pikir kita memang pantas mendapatkan yang lebih, namun ternyata apa yang kita terima tidak sesuai keinginan. Apalagi jika kita merasa kita sudah berusaha maksimal. Coba tenangkan diri sebentar lalu ingat-ingat kembali, apakah kita memang sudah melakukan yang terbaik? Jika jawabannya adalah tidak, maka itu adalah hasil yang harus kita terima. Akan tetapi jika jawabannya iya, maka kita tidak perlu bersedih karena mungkin memang itu yang terbaik untuk kita saat ini. Boleh kecewa tapi jangan terlalu berlarut-larut karena hal itu tidak akan mengubah keadaan. Tarik nafas panjang dan tersenyumlah, dan yang lebih penting adalah jangan lupa untuk berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Forgive and forget, percaya bahwa setiap cobaan pasti ada hikmahnya.

Beberapa Hal yang Seharusnya Menjadi Rahasiaku namun Ingin Kubagi Padamu


  1. Orang sering berkeinginan untuk keluar dari zona nyaman, tapi aku tidak karena aku tidak mau kehilanganmu.
  2. Aku ini egois, lho. Aku tidak mau ada orang lain yang memilikimu selain diriku.
  3. Taukah kamu bahwa semakin erat kamu memelukku, semakin bertambah pula keegoisanku.
  4. Aku suka sekali mendengarkan lagu "It Will Rain". Sstt, postingan itu kubuat khusus untukmu.
  5. Foto kita saat nonton God Bless kutempel di dinding lemari, agar aku bisa langsung melihatnya ketika bangun tidur.
  6. Semenjak itu juga, aku jadi sering berdiri berlama-lama di depan lemari.
  7. Sekali waktu aku mencoba membayangkan jika kita tidak bersama lagi, apakah kamu akan menemukan penggantiku dengan cepat?
  8. Aku tidak akan mencobanya lagi, hatiku sudah sakit hanya untuk sekedar membayangkannya.
  9. Aku tidak bisa membayangkan jika masing-masing kita harus mencari kita yang baru.
  10. Mukaku merah padam tiap kali teringat saat kita karaokean dulu.
  11. Aku suka melihatmu makan.
  12. Aku punya kebiasaan unik, menyimpan apapun yang berkaitan dengan kita, seperti contohnya gelang tanda masuk Jatim Park dan Lampion Garden.
  13. Tapi maaf, aku menghilangkan kartu ucapan selamat ulang tahun darimu. Aku sudah mencarinya tapi tidak ketemu juga :(
  14. Aku tidak bisa menahan diri untuk menghadirkan sosok bayangan dirimu ketika pertama kali aku melihatmu. Itu terjadi saat aku mengikuti seminar dan bertempat di aula lantai 4 sebulan yang lalu.
  15. Kadang-kadang aku membaca ulang cerpen yang dengan sengaja kamu selipkan diantara file-file lainnya dalam flashdiscku. Bolehkah aku menganggapnya cerita itu ditujukan untukku?
  16. Ketika kamu membaca postingan ini mungkin kamu akan berkernyit dan menganggap ini berlebihan, tapi biarlah waktu yang akan memberi arti.
  17. Sampai sekarang aku belum bisa menemukan kata-kata lain untuk memberitahumu tanpa harus berkata, "Aku sayang kamu". Jadi aku harap kamu tidak akan pernah bosan mendengarnya.

Sabtu, 02 Februari 2013

Cerita tentang Sebait Kenangan

Malam lalu aku teringat satu bait sajak yang bagus sekali. Pertama kali aku mendengarnya beberapa tahun silam saat aku mengikuti lomba PMR yang entah-aku-lupa-namanya di Unair Surabaya. Waktu itu aku masih duduk di kelas XI. Aku ingat waktu itu kami berangkat naik kereta api dari stasiun pukul tujuh. Walau akhirnya molor beberapa menit, kami masih sangat excited dengan lomba. Sesampainya di Surabaya kami dijemput mobil lalu langsung meluncur menuju tempat lomba. Suasana ramai dan berderet-deret tenda telah berdiri di depan area fakultas sekitar kedokteran. Ada juga peserta yang masih persiapan mendirikan tenda. Kami langsung bergegas ke lokasi yang telah disediakan dan mendirikan tenda. Dari semua tenda, tenda kami lah yang paling terlihat menyolok. Gimana nggak, kalau diatas tenda kami pasang terop untuk menghalangi sinar matahari yang terik. Orang Malang memang nggak kuat panas, hehe.. :))

Ada beberapa keterampilan yang dilombakan, beberapa diantaranya adalah mendirikan tenda, perawatan bayi, memasak untuk korban bencana, menggambar ilustrasi kegiatan PMR, dsb. Aku sendiri kedapatan memasak untuk korban bencana. Tentu saja aku tidak sendirian, aku ditemani empat anggota lainnya.

Semua lomba diadakan esok harinya. Setelah lomba selesai, malam harinya adalah ajang unjuk gigi. Kami diwajibkan untuk memberi satu pertunjukan, boleh drama, band, terserah. Kami memilih musikalisasi puisi dan menyanyi secara akustik. Temanku membuat puisi dan sebait sajak sebagai backsong. Aku suka sajaknya, dan baru-baru ini kuketahui sesuatu yang kusebut sajak itu ternyata potongan lirik lagu penyanyi rock Achmad Albar berjudul "Syair Kehidupan". Mungkin temanku ambil dari lagu itu, tapi ada satu baris yang beda, entah dia sengaja ganti atau lupa liriknya. 

Seharusnya kami maju pukul delapan tapi entah kenapa molor banget sampai dua jam. Molornya juga tidak masuk akal, peserta asal Surabaya maupun daerah lain didahulukan dan diberi waktu lebih saat tampil, bahkan walaupun urutan seharusnya setelah kami. Sedangkan peserta dari Malang waktu tampilnya dikorupsi. Kami protes, namun tidak ada tanggapan berarti dari pihak panitia. Syukurlah, penampilan kami tidak mengecewakan.

Esok harinya pemenang lomba diumumkan. Semua peserta pasti dag dig dug tak terkecuali kami. Satu demi satu pemenang lomba diumumkan, namun nama kami tidak kunjung dibacakan juga. Kami mulai putus harapan, lalu mulai mengemasi barang-barang serta tenda. Disaat terakhir, nama kami disebut sebagai pemenang lomba menggambar ilustrasi. Kami senang sekali. Kami berhasil membawa satu piala untuk dibawa pulang. Coba kalau nggak menang, malu dong sama tenda, hehehe..


Setelah semua beres dan piala sudah ditangan, kami kembali ngemper menunggu mobil yang akan membawa kami ke stasiun. Saat didalam mobil, kami excited sekali bercerita banyak hal selama tiga hari di perkemahan. Benar-benar pengalaman yang tidak akan kulupakan.