Sabtu, 02 Februari 2013

Cerita tentang Sebait Kenangan

Malam lalu aku teringat satu bait sajak yang bagus sekali. Pertama kali aku mendengarnya beberapa tahun silam saat aku mengikuti lomba PMR yang entah-aku-lupa-namanya di Unair Surabaya. Waktu itu aku masih duduk di kelas XI. Aku ingat waktu itu kami berangkat naik kereta api dari stasiun pukul tujuh. Walau akhirnya molor beberapa menit, kami masih sangat excited dengan lomba. Sesampainya di Surabaya kami dijemput mobil lalu langsung meluncur menuju tempat lomba. Suasana ramai dan berderet-deret tenda telah berdiri di depan area fakultas sekitar kedokteran. Ada juga peserta yang masih persiapan mendirikan tenda. Kami langsung bergegas ke lokasi yang telah disediakan dan mendirikan tenda. Dari semua tenda, tenda kami lah yang paling terlihat menyolok. Gimana nggak, kalau diatas tenda kami pasang terop untuk menghalangi sinar matahari yang terik. Orang Malang memang nggak kuat panas, hehe.. :))

Ada beberapa keterampilan yang dilombakan, beberapa diantaranya adalah mendirikan tenda, perawatan bayi, memasak untuk korban bencana, menggambar ilustrasi kegiatan PMR, dsb. Aku sendiri kedapatan memasak untuk korban bencana. Tentu saja aku tidak sendirian, aku ditemani empat anggota lainnya.

Semua lomba diadakan esok harinya. Setelah lomba selesai, malam harinya adalah ajang unjuk gigi. Kami diwajibkan untuk memberi satu pertunjukan, boleh drama, band, terserah. Kami memilih musikalisasi puisi dan menyanyi secara akustik. Temanku membuat puisi dan sebait sajak sebagai backsong. Aku suka sajaknya, dan baru-baru ini kuketahui sesuatu yang kusebut sajak itu ternyata potongan lirik lagu penyanyi rock Achmad Albar berjudul "Syair Kehidupan". Mungkin temanku ambil dari lagu itu, tapi ada satu baris yang beda, entah dia sengaja ganti atau lupa liriknya. 

Seharusnya kami maju pukul delapan tapi entah kenapa molor banget sampai dua jam. Molornya juga tidak masuk akal, peserta asal Surabaya maupun daerah lain didahulukan dan diberi waktu lebih saat tampil, bahkan walaupun urutan seharusnya setelah kami. Sedangkan peserta dari Malang waktu tampilnya dikorupsi. Kami protes, namun tidak ada tanggapan berarti dari pihak panitia. Syukurlah, penampilan kami tidak mengecewakan.

Esok harinya pemenang lomba diumumkan. Semua peserta pasti dag dig dug tak terkecuali kami. Satu demi satu pemenang lomba diumumkan, namun nama kami tidak kunjung dibacakan juga. Kami mulai putus harapan, lalu mulai mengemasi barang-barang serta tenda. Disaat terakhir, nama kami disebut sebagai pemenang lomba menggambar ilustrasi. Kami senang sekali. Kami berhasil membawa satu piala untuk dibawa pulang. Coba kalau nggak menang, malu dong sama tenda, hehehe..


Setelah semua beres dan piala sudah ditangan, kami kembali ngemper menunggu mobil yang akan membawa kami ke stasiun. Saat didalam mobil, kami excited sekali bercerita banyak hal selama tiga hari di perkemahan. Benar-benar pengalaman yang tidak akan kulupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar