Jumat, 12 Oktober 2012

Resensi Film: Proposal Daisakusen

“The key that opens the door of miracle is in everyone’s hand. But the ones who realize that are far and few. A miracle great enough to change one’s destiny doesn’t always come. With the desire to change and the small steps you take forward, the door of miracle will open someday..”

Selasa lalu aku diberi film berjudul Proposal Daisakusen oleh seorang teman. Dia mengatakan jika aku sudah tamat menonton filmnya, cobalah untuk menulis resensinya di blog. Whoaa,, ini adalah request pertama kali dari orang lain. Jadi, aku tidak ingin mengecewakannya! :D



Proposal Daisakusen--atau dalam bahasa inggrisnya yaitu Operation Love--adalah sebuah serial komedi-romantis dorama jepang yang berjumlah 12 episode. Masing-masing episode berdurasi satu jam, namun di episode terakhir durasinya mencapai dua jam. Film ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Iwase Ken yang menghadiri pernikahan sahabat karibnya bernama Yoshida Rei. Mereka sudah satu sekolah sejak SD. Rei adalah murid pindahan saat Ken kelas tiga. Di hari pertama mereka bertemu, Rei duduk di bangku sebelah Ken dan Ken memberinya setengah potongan penghapus karena Rei lupa membawanya. Sejak saat itu mereka berteman dekat dan satu sekolah hingga universitas. Saat kelas tiga SMA, kelas mereka diajar oleh guru baru yang sedang uji coba mengajar bernama Tada-san. Siapa sangka bahwa Tada-san adalah orang yang dinikahi Rei enam tahun mendatang. Saat slide show foto diputar, Ken patah hati. Ia ingin kembali ke saat-saat dimana ia menghabiskan waktu bersama Rei agar ia bisa menyatakan cintanya pada Rei. Karena keinginannya begitu kuat, tiba-tiba muncullah lelaki separuh baya yang mengaku sebagai 'peri' gereja tersebut. Sang peri bisa mengabulkan keinginannya untuk kembali ke masa lalu di momen saat foto tersebut diambil. Meskipun begitu, ada syarat yang tidak bisa dihindari, yaitu ia harus ada di dalam foto itu dan ia hanya bisa kembali sekali pada satu foto. Jadi Ken harus menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin.




Secara keseluruhan, film ini cukup menarik. Hanya saja pada beberapa bagian sering diulang-ulang, menjadikannya monoton dan membosankan. Misalnya saja saat tiap kali sang peri datang dan pergi, atau saat Ken ingin kembali ke masa lalu tiap kali melihat foto, atau kata-kata dari narator yang diulang-ulang. Namun, gaya bahasa tubuh Ken yang kaku atau ketika melihat perjuangan Ken memperjuangkan cintanya kembali membuat kita tertawa dan rasanya ingin terus dan terus menonton kelanjutan ceritanya.



Film ini tidak hanya menceritakan kisah cinta Ken dan Rei saja, namun juga diwarnai cerita tentang persahabatan Ken, Rei, dan tiga temannya saat mereka bersekolah di SMA. Setelah tamat menonton keduabelas serinya, kita akan dapat menyimpulkan bahwa film ini mengajarkan kita untuk selalu memperjuangkan cinta, dan jangan menunda untuk itu, karena siapa tahu dia akan meninggalkan kita untuk selamanya suatu saat nanti, hingga kita hanya bisa menyesalinya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar