Memasuki SMP, kecintaanku pada buku semakin menjadi. Aku mulai membaca novel-novel sastra, seperti Ronggeng Dukuh Paruk dan Layar Terkembang. Walaupun bahasanya susah dimengerti, namun aku begitu menikmatinya. Novel-novel terjemahan seperti Eragon, Harry Potter I-VII juga sudah kulahap. Bahkan, aku pernah membaca novel Sherlock Holmes berbahasa Inggris. Pokoknya, jika ada resensi novel bagus dari majalah, aku selalu berusaha mencari dan membacanya. Dalam hal ini tentu saja majalah remaja, karena aku tidak mungkin membaca majalah anak-anak lagi. Dari sini, orangtuaku mulai memprotes karena aku suka lupa waktu kalau sedang baca. Tidak jarang juga mereka memarahiku ketika melihat aku membawa-bawa tumpukan novel-novel yang tebalnya lebih enak untuk dibuat bantal daripada dibaca. Aku gondok, kenapa mereka mereka marah, kan yang mengenalkanku pada buku juga mereka. Toh, walaupun sering baca, nilai-nilaiku juga tidak terganggu.
Saat SMA, frekuensi membacaku mulai berkurang. Aku lebih suka komik daripada novel. Mungkin ini karena teman-temanku tidak terlalu suka membaca buku-buku tebal. Bikin mata sakit, katanya. Kata orang, masa SMA adalah masa-masa terindah dalam hidup. Jadi, aku tidak mau menyia-nyiakannya begitu saja. Waktuku kuhabiskan untuk bermain bersama teman-teman se-gank. Mataku pun juga mulai bertransformasi seperti mata-mata mereka, berkunang-kunang ketika melihat tumpukan buku-buku tebal.
Ketika aku menduduki bangku perkuliahan, perlahan aku kembali menyentuh buku. Ini kulakukan secara terpaksa. Kamu tahu, buku-buku perkuliahan itu semuanya mahal dan berat banget. Jadi mau tidak mau aku harus membacanya, minimal daftar isi. Aku mulai lagi membaca novel, walaupun kebanyakan novel yang kubaca adalah novel populer yang ngetren lewat jejaring sosial. Kalau untuk karya sastra, mungkin tidak dulu, bukan karena aku malas, tapi jadwal kuliah yang padat cukup menyita waktu. Lain kali, jika ada waktu luang, aku akan mencobanya lagi ;)
Saat SMA, frekuensi membacaku mulai berkurang. Aku lebih suka komik daripada novel. Mungkin ini karena teman-temanku tidak terlalu suka membaca buku-buku tebal. Bikin mata sakit, katanya. Kata orang, masa SMA adalah masa-masa terindah dalam hidup. Jadi, aku tidak mau menyia-nyiakannya begitu saja. Waktuku kuhabiskan untuk bermain bersama teman-teman se-gank. Mataku pun juga mulai bertransformasi seperti mata-mata mereka, berkunang-kunang ketika melihat tumpukan buku-buku tebal.
Ketika aku menduduki bangku perkuliahan, perlahan aku kembali menyentuh buku. Ini kulakukan secara terpaksa. Kamu tahu, buku-buku perkuliahan itu semuanya mahal dan berat banget. Jadi mau tidak mau aku harus membacanya, minimal daftar isi. Aku mulai lagi membaca novel, walaupun kebanyakan novel yang kubaca adalah novel populer yang ngetren lewat jejaring sosial. Kalau untuk karya sastra, mungkin tidak dulu, bukan karena aku malas, tapi jadwal kuliah yang padat cukup menyita waktu. Lain kali, jika ada waktu luang, aku akan mencobanya lagi ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar