Kamis, 26 Juli 2012

Seteguk Cerita Semanis Cokelat

Kali ini aku akan memposting sebuah cerpen amatiranku. Sebenarnya cerpen ini sudah lama sekali, dan saat aku berhasil bikin blog (bahkan sebelum), rasanya aku seperti ingin segera memposting cerita ini. Bukan, ini bukan cerita tentang diriku. Ini adalah sebuah cerita fiksi non-ilmiah. Aku suka sekali dengan cerita fiksi non-ilmiah, rasanya lebih mendekati dengan kehidupan kita. Beberapa waktu lalu aku membaca sebuah novel terjemahan berjudul I Feel Bad about My Neck. Aku lupa nama pengarangnya, namun dari cerita yang dia paparkan, aku tahu bahwa dia sangat mencintai non-ilmiah, terutama non-fiksi. Dia menjelaskan bagaimana banyak penulis mencoba membuat cerita fiksi, padahal sebuah kenyataan terkadang lebih mengejutkan dan mustahil daripada cerita non-fiksi. Aku setuju dengan beliau. Suatu saat aku ingin menulis kisahku sendiri yang nantinya bisa dibaca dan dikenang orang yang membacanya, ceilaah. 


Walaupun aku menyukai fiksi non-ilmiah dan non-fiksi, bukan berarti aku anti fiksi ilmiah. Aku suka sekali dengan Harry Potter. Aku sudah tamat membaca seluruh novelnya. Aku suka Lord of The Ring, tapi aku belum membaca novelnya, aku masih menonton filmnya saja. Dan saat ini aku penasaran ingin membaca novel The Hunger Games karya Suzanne Collins. Suatu hari aku pergi ke perpustakaan kota dan mencari disana, masih dipinjam.





Seteguk Cerita Semanis Cokelat
            Waktu  menunjukkan pukul 19.10. Ini berarti kami sudah sepuluh menit berada disini. Ya, kami. Aku dan Rudy. Hanya berdua. Tadi sore Rudy mengirimkan pesan singkat padaku untuk bertemu di kafe langganan kami dan teman-teman. Biasanya kami beramai-ramai nongkrong disini sampai larut malam, tapi karena Rudy ingin bicara empat mata denganku maka sekarang jadilah aku dan Rudy duduk berdua berhadap-hadapan di salah satu sudut kafe Bali House ini. Sudah 15 menit berlalu namun kami masih diam membisu. Tak ada seorangpun dari kami yang berniat untuk memulai pembicaraan. Sebenarnya aku sudah mengetahui maksud dan tujuan Rudy mengajakku kemari. Awalnya aku menolak untuk bertemu, tapi karena rasa sayangku padanya lebih besar, akhirnya akupun menyetujuinya.
Aku melihat sekeliling. Dibelakang Rudy terdapat beberapa pohon rimbun yang sedikit menimbulkan kesan angker pada malam hari seperti ini. Di sebelahnya, terdapat beberapa ruang karaoke yang semuanya sudah terisi penuh oleh muda-mudi yang bernyanyi dengan suara ala kadarnya. Salah seorang diantaranya melihat kami dari jendela lalu bersiul-siul dan melontarkan kalimat-kalimat godaan.
“Jadi…” kata Rudy memulai pembicaraan, membuyarkan lamunanku. “Kamu pasti udah tau apa yang mau aku bicarain ke kamu.” lanjutnya. Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya yang daritadi aku hindari.
“Ya, Rud. Aku udah tau. Kemarin kamu juga udah jelasin via telepon” jawabku.
“Maafin aku, Kay. Tapi, kayaknya kita udah nggak bisa ngelanjutin hubungan ini.”
Bukan kita, Rud. Tapi kamu. Kataku dalam hati.
“Sebenarnya aku udah ngerasain ini sejak lama, tapi aku coba buat bertahan. Tapi saat aku ngelihat kamu murung di pesta perpisahannya si Ivan, aku nggak sampai hati. Aku nggak mau nyakitin hatimu lebih jauh lagi.  Saat itu aku berpikir mungkin aku akan mengatakannya padamu sekarang, tapi waktu aku panggil kamu, kamu sama sekali nggak menoleh. Kamu pasti udah sakit hati banget sama aku.” katanya.
“Gimana bisa kamu bilang udah lama ngerasa nggak cocok lagi sama aku padahal kita belum ada satu minggu pacaran? Tapi sumpah, aku bener-bener nggak ngerti kalau waktu itu kamu manggil aku, soalnya aku juga nggak ngelihat kamu ada dimana. Malahan aku kira kamu nggak datang.” kataku, berusaha tegar.
Hening. Rudy tidak menjawab pernyataanku barusan. Akupun lebih memilih untuk diam. Beberapa menit kemudian Mbak Nita, pelayan kafe datang membawa nampan berisi dua gelas es cokelat.
“Eh, ada Mbak Kayla. Lagi romantis nih kayaknya dua-duaan” sapanya riang setengah menggoda sembari meletakkan es cokelat di meja. “Maaf ya pesanannya lama, abisnya rame, sih.”. Aku hanya membalasnya dengan senyuman simpul. “Makasih, Mbak.” Mbak Nita lalu kembali ke dapur. Ah, andai Mbak Nita tau kalau kami tidak seromantis yang dia pikirkan..
“Minum dulu, Kay. Es cokelat kesukaan kamu tuh.” Kata Rudy sambil menyeruput es cokelatnya.
“Ya..” jawabku, lalu mengaduk-aduk es menggunakan sedotan dahulu, baru setelahnya kuminum.
Dingin. Es memang dingin, tapi kali ini aku merasa es yang baru saja masuk kedalam kerongkonganku ini terlalu dingin dari biasanya, sampai-sampai tulangku pun ikutan membeku. Pandanganku menerawang pada gelas es cokelat, dindingnya mulai mengembun, semakin lama semakin banyak hingga berubah menjadi titik-titik air lalu jatuh membasahi tanganku.
Aku ingat, kemarin lalu kami minum es cokelat segelas berdua bersama. Kami saling bersandar di bahu satu sama lain. Sesekali Rudy menyodorkan sedotannya tepat didepan mulutku, jadi aku hanya tinggal menyeruputnya saja. Aku menghela nafas.
“Rudy, kamu belum menjawab pernyataanku tadi.” kataku, mencoba membunuh keheningan. Rudy menatap mataku dalam-dalam.
“Aku bingung mau ngomong kayak gimana, aku nggak mau nyakitin kamu. Aku memang belum pernah pacaran sebelumnya, tapi aku tau gimana caranya pacaran. Tapi kenapa waktu ngejalaninnya rasanya susah. Kamu juga pasti sedih udah aku cuekin saat malam pementasan drama, aku lebih memilih berkumpul sama teman-temanku daripada menemanimu.
“Aku ngelakuin itu juga bukan tanpa alasan, kami punya masalah yang nggak bisa aku ceritain ke kamu. Aku malu jika harus cerita masalahku ke kamu, karena kamu pacarku..” katanya sedikit terbata-bata. Rudy memang sering gugup kalau berbicara dengan perempuan. Tapi entah kenapa aku menyukainya.
“Kenapa begitu? Bukannya kamu sendiri yang bilang di awal pacaran kalau kita harus saling jujur, saling terbuka satu sama lain? Bahkan kamu sendiri yang meyakinkanku atas hal itu, apalagi jika nanti kita udah pulang ke kota asal masing-masing, kejujuran dan kepercayaan adalah hal yang penting. Atau kamu takut kita akan ngejalanin hubungan jarak jauh, jadi kamu nggak mempercayaiku?” belaku. Hati dan mataku mulai memanas, tapi aku masih bisa menguasainya.
“Bukan gitu, Kay.. kalau hanya pacaran jarak jauh aku nggak terlalu memikirkannya. Jakarta-Bandung jaraknya cuma 3 jam perjalanan. Kalau aku kangen kamu, aku bisa sewaktu-waktu ke Bandung. Toh aku juga punya rumah kontrakan yang aku tinggali bersama teman-temanku.
“Sanja cerita padaku kalau kamu minta sarannya, dia juga udah nyaranin kamu buat ninggalin aku aja, karena dia tau seperti apa diriku yang sebenarnya dan yang terbaik untukmu, Kayla. Tapi kamu tetap percaya sama aku. Aku jadi makin ngerasa berat, Kay. Kamu terlalu baik buatku, aku nggak pantas nerima ketulusanmu…”
Aku kaget mendengar kata-kata Rudy. Menurutku, mutusin pacar dengan alasan ‘terlalu baik, aku nggak pantas untukmu’ itu basi. Faktanya yang minta putus udah bosen banget sama kita dan terlalu malas mencari-cari alasan lain yang lebih bisa diterima logika. Mungkin juga karena mereka tidak ingin menyakiti hati kita, jadi mereka menjelek-jelekkan diri mereka sendiri dengan alasan ‘aku nggak pantas untukmu’ tersebut. Pendeknya, Rudy sudah merasa jenuh padaku.
“Maafin aku, Kay. Aku memang saying sama kamu, Cuma kalau buat pacaran, aku belum bisa. Aku belum siap. Aku belum tau cara membahagiakan seseorang yang kita sayangi. Mohon kamu ngertiin aku. Memalukan memang. Aku malu sama kamu, aku malu sama teman-teman, aku malu sama diriku sendiri. Aku merasa laki-laki nggak seharusnya begini. Andai aku bisa balik ke Pontianak, aku bakal langsung pulang kesana. Aku sudah malu banget kalau harus berada disini. Mukaku mau ditaruh dimana, Kay. Andai kalau waktu bisa diputar kembali, aku lebih memilih nggak pernah kenal kamu, nggak menjadikanmu pacarku, daripada harus berakhir kayak gini..” lanjutnya. Kurasakan suaranya bergetar. Seperti ingin menangis namun ditahan. Rudy percayalah air mata hatiku sekarang sudah tumpah melebihi tangisanmu yang kau tahan itu.
“Rudy.. kalau kita sudah yakin untuk memulai suatu hubungan itu, kita harus yakin dulu dengan pilihan kita, apakah kita bisa untuk berkomitmen dengan seseorang tersebut, menimbang baik buruknya dahulu. Kita nggak bisa jika hanya menyukai kelebihannya aja, sehingga jika ada kekurangan dalam pasangan kita, kita bakal kecewa banget karena ternyata pasangan kita tidak seperti yang kita bayangkan atau inginkan. Seperti kita ini. Aku selalu berusaha buat menerima apa adanya kamu. Aku menyukai hal-hal yang memang kusukai darimu, kelebihanmu. Tapi aku juga belajar menerima kekuranganmu. Walaupun begitu, aku juga nggak menutup mata akan hal-hal yang membuatku nggak sreg. Seperti saat aku ingin perhatian yang lebih darimu. Aku tau kamu orangnya cuek, tapi seenggaknya kamu beri sedikit aja perhatian lebih padaku, seperti saat kamu pedekate sama aku dulu. Nggak masalah jika kamu nggak mau berbagi kegelisahan hatimu padaku, karena memang nggak semua cerita bisa diceritakan pada orang lain. Akupun juga berharap kamu mau melakukan hal yang sama seperti aku lakukan padamu. Menerimaku apa adanya..” jelasku. Aku heran mengapa aku bisa berbicara selancar barusan.
“Kalau kamu tanya  apa aku sayang kamu, jujur perasaan itu masih ada..  Tapi seperti yang aku bilang tadi, aku belum siap.. Aku mau kita berteman aja kayak dulu. Aku lebih nyaman berteman sama kamu daripada harus menyandang status sebagai pacar. Aku ngerasa kalau pacaran itu kita jadi nggak bebas mau cerita apa, nggak kayak teman yang bebas curhat.. sekali lagi maaf Kay…”
            Jangan, Rudy. Aku nggak mau kita berakhir. Aku masih sayang kamu. Katakan kalau ini semua cuma mimpi. Katakan jika nanti aku terbangun lagi maka semuanya masih baik-baik saja. Namun jika ini memang kenyataan, katakan bahwa kamu ingin mengulang kisah kita kembali. Berilah kesempatan sekali lagi.. Jeritku dalam hati.
“Baiklah, kalau memang dengan berteman bisa membuatmu lebih nyaman bersamaku, nggak apa-apa, Rud.”  Jawabku, setelah terdiam cukup lama. Jika melepaskannya adalah satu-satunya caraku mencintainya, maka akan kulakukan. Aku tidak ingin melihat dirinya sedih seperti sekarang, aku ingin selalu melihat senyum bahagia diwajahnya.
“Makasih, Kay. Makasih udah pernah jadi pacarku, pacar pertamaku. Memalukan aku ini, udah tua begini masih belum pernah pacaran sama sekali. Aku harap kamu nggak kapok temenan sama aku. Sapa aku jika kita berpas-pasan di jalan.  Anggap aja semua ini nggak pernah terjadi.”
“Hahaha kamu bisa aja Rudy. Terima kasih juga kamu udah pernah menjadi bagian hidupku. Terima kasih dengan semua kenangan indah yang udah kamu beri untukku. Aku nggak akan pernah menyesal pernah punya pacar seperti kamu, Rud..”  kataku seraya tersenyum tulus padanya.
                                                                                 ***
            Di perjalanan menuju kembali ke kos-kosan aku merenungkan apa yang baru saja terjadi. Aku sudah putus sama Rudy. Rudy yang begitu kusayangi..
Ketika sampai di depan pintu kamar, aku masih bisa mendengar suara anak-anak yang masih semangat berkaraoke ria, karena kamar kosku letaknya tepat dibalik Kafe Bali House. Lalu aku pun masuk kamar dan kututup pintu. Aku bersandar pada dinding pintu sambil menyilangkan kedua tanganku. Dadaku berdegup kencang. Semua kenangan tentang Rudy mulai muncul satu persatu. Semuanya begitu manis, semanis es cokelat yang selalu kupesan di Kafe Bali House, sampai-sampai akan menyakitkan jika dilupakan begitu saja. Kurasakan mataku memanas. Aku tidak sanggup lagi menahan air didalamnya yang sedaritadi memaksa untuk keluar. Airmataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Sayup-sayup kudengar dari Kafe Bali House sebuah lagu.
Jangan berakhir
Aku tak ingin berakhir
Satu jam saja
Kuingin diam berdua, mengenang yang pernah ada
Jangan berakhir
Karena esok takkan lagi
Satu jam saja
Hingga kurasa bahagia mengakhiri segalanya
Tapi kini tak mungkin lagi
Katamu semua sudah tak berarti
Satu jam saja
Itupun tak mungkin, tak mungkin lagi
*****

2 komentar: