Walaupun aku menyukai fiksi non-ilmiah dan non-fiksi, bukan berarti aku anti fiksi ilmiah. Aku suka sekali dengan Harry Potter. Aku sudah tamat membaca seluruh novelnya. Aku suka Lord of The Ring, tapi aku belum membaca novelnya, aku masih menonton filmnya saja. Dan saat ini aku penasaran ingin membaca novel The Hunger Games karya Suzanne Collins. Suatu hari aku pergi ke perpustakaan kota dan mencari disana, masih dipinjam.
Seteguk
Cerita Semanis Cokelat
Waktu menunjukkan pukul 19.10. Ini berarti kami
sudah sepuluh menit berada disini. Ya, kami. Aku dan Rudy. Hanya berdua. Tadi
sore Rudy mengirimkan pesan singkat padaku untuk bertemu di kafe langganan kami
dan teman-teman. Biasanya kami beramai-ramai nongkrong disini sampai larut
malam, tapi karena Rudy ingin bicara empat mata denganku maka sekarang jadilah
aku dan Rudy duduk berdua berhadap-hadapan di salah satu sudut kafe Bali House
ini. Sudah 15 menit berlalu namun kami masih diam membisu. Tak ada seorangpun
dari kami yang berniat untuk memulai pembicaraan. Sebenarnya aku sudah
mengetahui maksud dan tujuan Rudy mengajakku kemari. Awalnya aku menolak untuk
bertemu, tapi karena rasa sayangku padanya lebih besar, akhirnya akupun
menyetujuinya.
Aku
melihat sekeliling. Dibelakang Rudy terdapat beberapa pohon rimbun yang sedikit
menimbulkan kesan angker pada malam hari seperti ini. Di sebelahnya, terdapat
beberapa ruang karaoke yang semuanya sudah terisi penuh oleh muda-mudi yang
bernyanyi dengan suara ala kadarnya. Salah seorang diantaranya melihat kami
dari jendela lalu bersiul-siul dan melontarkan kalimat-kalimat godaan.
“Jadi…”
kata Rudy memulai pembicaraan, membuyarkan lamunanku. “Kamu pasti udah tau apa
yang mau aku bicarain ke kamu.” lanjutnya. Kuberanikan diri untuk menatap
wajahnya yang daritadi aku hindari.
“Ya,
Rud. Aku udah tau. Kemarin kamu juga udah jelasin via telepon” jawabku.
“Maafin
aku, Kay. Tapi, kayaknya kita udah nggak bisa ngelanjutin hubungan ini.”
Bukan kita, Rud. Tapi kamu.
Kataku dalam hati.
“Sebenarnya
aku udah ngerasain ini sejak lama, tapi aku coba buat bertahan. Tapi saat aku
ngelihat kamu murung di pesta perpisahannya si Ivan, aku nggak sampai hati. Aku
nggak mau nyakitin hatimu lebih jauh lagi.
Saat itu aku berpikir mungkin aku akan mengatakannya padamu sekarang,
tapi waktu aku panggil kamu, kamu sama sekali nggak menoleh. Kamu pasti udah
sakit hati banget sama aku.” katanya.
“Gimana
bisa kamu bilang udah lama ngerasa nggak cocok lagi sama aku padahal kita belum
ada satu minggu pacaran? Tapi sumpah, aku bener-bener nggak ngerti kalau waktu
itu kamu manggil aku, soalnya aku juga nggak ngelihat kamu ada dimana. Malahan
aku kira kamu nggak datang.” kataku, berusaha tegar.
Hening.
Rudy tidak menjawab pernyataanku barusan. Akupun lebih memilih untuk diam.
Beberapa menit kemudian Mbak Nita, pelayan kafe datang membawa nampan berisi
dua gelas es cokelat.
“Eh,
ada Mbak Kayla. Lagi romantis nih kayaknya dua-duaan” sapanya riang setengah
menggoda sembari meletakkan es cokelat di meja. “Maaf ya pesanannya lama,
abisnya rame, sih.”. Aku hanya membalasnya dengan senyuman simpul. “Makasih,
Mbak.” Mbak Nita lalu kembali ke dapur. Ah, andai Mbak Nita tau kalau kami
tidak seromantis yang dia pikirkan..
“Minum
dulu, Kay. Es cokelat kesukaan kamu tuh.” Kata Rudy sambil menyeruput es
cokelatnya.
“Ya..”
jawabku, lalu mengaduk-aduk es menggunakan sedotan dahulu, baru setelahnya
kuminum.
Dingin.
Es memang dingin, tapi kali ini aku merasa es yang baru saja masuk kedalam kerongkonganku
ini terlalu dingin dari biasanya, sampai-sampai tulangku pun ikutan membeku.
Pandanganku menerawang pada gelas es cokelat, dindingnya mulai mengembun,
semakin lama semakin banyak hingga berubah menjadi titik-titik air lalu jatuh
membasahi tanganku.
Aku
ingat, kemarin lalu kami minum es cokelat segelas berdua bersama. Kami saling
bersandar di bahu satu sama lain. Sesekali Rudy menyodorkan sedotannya tepat
didepan mulutku, jadi aku hanya tinggal menyeruputnya saja. Aku menghela nafas.
“Rudy,
kamu belum menjawab pernyataanku tadi.” kataku, mencoba membunuh keheningan.
Rudy menatap mataku dalam-dalam.
“Aku
bingung mau ngomong kayak gimana, aku nggak mau nyakitin kamu. Aku memang belum
pernah pacaran sebelumnya, tapi aku tau gimana caranya pacaran. Tapi kenapa
waktu ngejalaninnya rasanya susah. Kamu juga pasti sedih udah aku cuekin saat
malam pementasan drama, aku lebih memilih berkumpul sama teman-temanku daripada
menemanimu.
“Aku
ngelakuin itu juga bukan tanpa alasan, kami punya masalah yang nggak bisa aku
ceritain ke kamu. Aku malu jika harus cerita masalahku ke kamu, karena kamu
pacarku..” katanya sedikit terbata-bata. Rudy memang sering gugup kalau
berbicara dengan perempuan. Tapi entah kenapa aku menyukainya.
“Kenapa
begitu? Bukannya kamu sendiri yang bilang di awal pacaran kalau kita harus
saling jujur, saling terbuka satu sama lain? Bahkan kamu sendiri yang
meyakinkanku atas hal itu, apalagi jika nanti kita udah pulang ke kota asal
masing-masing, kejujuran dan kepercayaan adalah hal yang penting. Atau kamu
takut kita akan ngejalanin hubungan jarak jauh, jadi kamu nggak mempercayaiku?”
belaku. Hati dan mataku mulai memanas, tapi aku masih bisa menguasainya.
“Bukan
gitu, Kay.. kalau hanya pacaran jarak jauh aku nggak terlalu memikirkannya. Jakarta-Bandung
jaraknya cuma 3 jam perjalanan. Kalau aku kangen kamu, aku bisa sewaktu-waktu
ke Bandung. Toh aku juga punya rumah kontrakan yang aku tinggali bersama
teman-temanku.
“Sanja
cerita padaku kalau kamu minta sarannya, dia juga udah nyaranin kamu buat ninggalin
aku aja, karena dia tau seperti apa diriku yang sebenarnya dan yang terbaik
untukmu, Kayla. Tapi kamu tetap percaya sama aku. Aku jadi makin ngerasa berat,
Kay. Kamu terlalu baik buatku, aku nggak pantas nerima ketulusanmu…”
Aku
kaget mendengar kata-kata Rudy. Menurutku, mutusin pacar dengan alasan ‘terlalu
baik, aku nggak pantas untukmu’ itu basi. Faktanya yang minta putus udah bosen
banget sama kita dan terlalu malas mencari-cari alasan lain yang lebih bisa
diterima logika. Mungkin juga karena mereka tidak ingin menyakiti hati kita,
jadi mereka menjelek-jelekkan diri mereka sendiri dengan alasan ‘aku nggak
pantas untukmu’ tersebut. Pendeknya, Rudy sudah merasa jenuh padaku.
“Maafin
aku, Kay. Aku memang saying sama kamu, Cuma kalau buat pacaran, aku belum bisa.
Aku belum siap. Aku belum tau cara membahagiakan seseorang yang kita sayangi.
Mohon kamu ngertiin aku. Memalukan memang. Aku malu sama kamu, aku malu sama
teman-teman, aku malu sama diriku sendiri. Aku merasa laki-laki nggak
seharusnya begini. Andai aku bisa balik ke Pontianak, aku bakal langsung pulang
kesana. Aku sudah malu banget kalau harus berada disini. Mukaku mau ditaruh
dimana, Kay. Andai kalau waktu bisa diputar kembali, aku lebih memilih nggak pernah
kenal kamu, nggak menjadikanmu pacarku, daripada harus berakhir kayak gini..” lanjutnya.
Kurasakan suaranya bergetar. Seperti ingin menangis namun ditahan. Rudy
percayalah air mata hatiku sekarang sudah tumpah melebihi tangisanmu yang kau
tahan itu.
“Rudy..
kalau kita sudah yakin untuk memulai suatu hubungan itu, kita harus yakin dulu
dengan pilihan kita, apakah kita bisa untuk berkomitmen dengan seseorang
tersebut, menimbang baik buruknya dahulu. Kita nggak bisa jika hanya menyukai
kelebihannya aja, sehingga jika ada kekurangan dalam pasangan kita, kita bakal
kecewa banget karena ternyata pasangan kita tidak seperti yang kita bayangkan
atau inginkan. Seperti kita ini. Aku selalu berusaha buat menerima apa adanya
kamu. Aku menyukai hal-hal yang memang kusukai darimu, kelebihanmu. Tapi aku
juga belajar menerima kekuranganmu. Walaupun begitu, aku juga nggak menutup
mata akan hal-hal yang membuatku nggak sreg.
Seperti saat aku ingin perhatian yang lebih darimu. Aku tau kamu orangnya cuek,
tapi seenggaknya kamu beri sedikit aja perhatian lebih padaku, seperti saat
kamu pedekate sama aku dulu. Nggak masalah jika kamu nggak mau berbagi
kegelisahan hatimu padaku, karena memang nggak semua cerita bisa diceritakan
pada orang lain. Akupun juga berharap kamu mau melakukan hal yang sama seperti
aku lakukan padamu. Menerimaku apa adanya..” jelasku. Aku heran mengapa aku
bisa berbicara selancar barusan.
“Kalau
kamu tanya apa aku sayang kamu, jujur
perasaan itu masih ada.. Tapi seperti
yang aku bilang tadi, aku belum siap.. Aku mau kita berteman aja kayak dulu.
Aku lebih nyaman berteman sama kamu daripada harus menyandang status sebagai
pacar. Aku ngerasa kalau pacaran itu kita jadi nggak bebas mau cerita apa,
nggak kayak teman yang bebas curhat.. sekali lagi maaf Kay…”
Jangan, Rudy. Aku nggak mau kita
berakhir. Aku masih sayang kamu. Katakan kalau ini semua cuma mimpi. Katakan
jika nanti aku terbangun lagi maka semuanya masih baik-baik saja. Namun jika
ini memang kenyataan, katakan bahwa kamu ingin mengulang kisah kita kembali.
Berilah kesempatan sekali lagi.. Jeritku dalam hati.
“Baiklah,
kalau memang dengan berteman bisa membuatmu lebih nyaman bersamaku, nggak
apa-apa, Rud.” Jawabku, setelah terdiam
cukup lama. Jika melepaskannya adalah satu-satunya caraku mencintainya, maka akan
kulakukan. Aku tidak ingin melihat dirinya sedih seperti sekarang, aku ingin
selalu melihat senyum bahagia diwajahnya.
“Makasih,
Kay. Makasih udah pernah jadi pacarku, pacar pertamaku. Memalukan aku ini, udah
tua begini masih belum pernah pacaran sama sekali. Aku harap kamu nggak kapok
temenan sama aku. Sapa aku jika kita berpas-pasan di jalan. Anggap aja semua ini nggak pernah terjadi.”
“Hahaha
kamu bisa aja Rudy. Terima kasih juga kamu udah pernah menjadi bagian hidupku.
Terima kasih dengan semua kenangan indah yang udah kamu beri untukku. Aku nggak
akan pernah menyesal pernah punya pacar seperti kamu, Rud..” kataku seraya tersenyum tulus padanya.
***
Di perjalanan menuju kembali ke
kos-kosan aku merenungkan apa yang baru saja terjadi. Aku sudah putus sama
Rudy. Rudy yang begitu kusayangi..
Ketika
sampai di depan pintu kamar, aku masih bisa mendengar suara anak-anak yang
masih semangat berkaraoke ria, karena kamar kosku letaknya tepat dibalik Kafe
Bali House. Lalu aku pun masuk kamar dan kututup pintu. Aku bersandar pada
dinding pintu sambil menyilangkan kedua tanganku. Dadaku berdegup kencang.
Semua kenangan tentang Rudy mulai muncul satu persatu. Semuanya begitu manis,
semanis es cokelat yang selalu kupesan di Kafe Bali House, sampai-sampai akan
menyakitkan jika dilupakan begitu saja. Kurasakan mataku memanas. Aku tidak
sanggup lagi menahan air didalamnya yang sedaritadi memaksa untuk keluar.
Airmataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Sayup-sayup kudengar dari Kafe
Bali House sebuah lagu.
Jangan berakhir
Aku tak ingin berakhir
Satu jam saja
Kuingin diam berdua, mengenang yang
pernah ada
Jangan berakhir
Karena esok takkan lagi
Satu jam saja
Hingga kurasa bahagia mengakhiri
segalanya
Tapi kini tak mungkin lagi
Katamu semua sudah tak berarti
Satu jam saja
Itupun tak mungkin, tak mungkin
lagi
*****
gak ada lanjutannyakah inii?? :)
BalasHapuswaduh ndak ada ini kn cerpen lepas :D
BalasHapus